Tamu Tak Diundang

Lima hari Solo Traveling di Luang Prabang, Laos lumayan berkesan buat saya. Karena kotanya kecil, kemana-mana bisa jalan kaki, dan kebanyakan wisata nya kuil lagi kuil lagi, jadi lumayan bisa membuat saya melakukan hal-hal aneh dalam lima hari itu. Ditambah lagi saya berpergian seorang diri, merdeka deh.

Saya nginap di Vongprachan Backpacker Hostel. Biasalah, kamar tipe Dorm dengan kasur bertingkat yang tiap malam gonta ganti mulu orang yang nginap. Itu lah oke nya solo traveling, karena merasa sendiri, tidak ada pilihan lain selain mencoba membaur dengan sesama traveler. Rata-rata mereka long term traveling, ada cowok amerika yg jalan-jalan setahun setelah resign sebagai accountant, ada cewek Inggris keturunan China yg sudah empat bulanan traveling setelah resign sebagai Fisioterapis, ada programmer Korea yang kerja enam bulan dan jalan-jalan enam bulan, ada cowok Israel yang sudah enam bulan keliling dunia, dan banyak lagi. Aggh bikin iri!  Makanya saya suka malu sendiri kalau ditanya berapa lama saya liburan. Seorang teman dari Jepang bertanya, Sudah berapa lama kamu traveling ? Saya pun menjawab Cuma seminggu. Dia pun membalas, “Oh holiday ya, bukan traveling”. Beteeee!

Sementara saya tidak terlalu banyak bicara dengan orang Lokal Laos. Resepsionis hotel ada dua, yang satu nya pendiam yang satu nya lagi juga pendiam tapi agak mendingan dibanding yang pertama. Sekali-kali nya ngobrol, itu pun absurd conversation. Kita main tebak-tebakan umur, awalnya dia nanya umur saya, saya jawab lah. Terus pas giliran saya nanya umur dia, dia pun meminta saya mencoba menebak. 32 timpal saya, dia pun membalas, Bukan, umur saya 23. Ya Ampun, tebakan saya meleset jauh, saya pun minta maaf.

Beberapa kali si Resepsionis suka nggak ngeh kalau saya itu tamu Hotel. Pernah saya minta kamar mandi di Semprot karena bau atau AC kamar nggak nyala. Tapi responnya lama, terus pas saya nanya, “Gimana udah dikerjain belum pesanan gue?”. Dia pun menjawab, “Ya Ampun, maaf, saya kira kamu pegawai Hotel sebelah, saya nggak ngeh kalau kamu orang asing”. Terus dia pun menambahkan, wajah mu kayak orang sini lho, eh bukan kayak Orang Thailand, 100% seperti orang Thailand. Ya elah dia ngeles.

Lain lagi waktu saya nanya harga Cruise untuk mengitari sungai Mekong dan Nam Khan. Si Awak kapal tampak ragu-ragu memulai percakapan untuk menawarkan harga kepada saya. Setelah saya bilang saya turis baru lah dia beralih dari bahasa Laos ke Bahasa Inggris. “We look same-same !, Where are you from Again ?”..

Pada suatu malam saya keliling-keliling kota kecil ini. Siang hari di sini begitu terik, sampai 30 derajat sementara pagi nya dingin sekali, sekitar 18 derajat. Jadi saya lebih memilih jalan-jalan di malam hari yang suhu nya sedang, apalagi Night Market nya selalu rame tiap malam. Setelah capek jalan kaki saya pun mulai lapar dan haus, pas ngecek kantong saya pun sadar kalau saya butuh ke ATM ngambil duit Kip. Sembari mencari ATM tapi si ATM belum ketemu-ketemu dan perut saya mulai berontak, saya melihat ada keramaian, mungkin semacam pesta nikahan pikir saya.  Yihaaa, bisa makan gratis nih

Seketika teringatlah kata-kata Resepsionis Hotel dan pemuda yang di Sungai Mekong tadi, Saya mirip orang lokal. Muncul lah ide untuk masuk saja ke pesta itu dengan harapan mereka tidak akan curiga kalau saya adalah tamu tak diundang. Pas masuk, saya sempat diliatin beberapa orang remaja, saya pun cuek langsung ambil makanan sambil menebar sedikit senyum. Mareka pun tidak memperhatikan saya lagi. Saya ambil lontong yang dimakan dengan kuah Soup, beberapa cemilan, jeruk, pisang, dan air minum, layaknya tamu undangan. Saya pun mencari-cari tempat duduk yang kosong tapi tidak ada, ya terpaksalah saya duduk semeja dengan seorang Ibu beserta suaminya.

Pas lagi asyik makan, tiba-tiba si Ibu mengajak ngobrol dengan bahasa Laos., yang hampir membuat saya tersedak. *Mampus gue, pikir ku dalam hati, kudu jawab apa nih, kalo ketahuan Gawat. Saya pun spontan pura-pura bisu dan memperagakan bahasa isyarat dengan tangan. And you know what, Si Ibu pun manggut manggut dan sedikit tertawa. It works! Dia sama suaminya percaya kalau gue adalah orang Laos yang tuna rungu, hehe.

Setelah selesai makan, terlihat lah segerombolah biksu yang keluar dari rumah tempat diadakannya acara yang semakin membuat saya bertanya-tanya, Ini sebenarnya acara nikahan, sunatan, kematian, acara keagamaan atau apa sih ?. Ora pikir ahh sing penting perut gue kenyangg. Yihaaa. Saya pun pergi meninggalkan pesta tanpa perasaan berodsa, setelah sebelumnya pamitan dengan salaman dengan beberapa orang yang sepertinya tuan rumah, dengan salaman khas Laos,  Sa Bai Deee… 😉

Advertisements

GEGAR BUDAYA SHOLAT JUM’AT

Beberapa kali saya jum’atan di Luar negri ternyata meninggalkan kesan yang mendalam. Baik karena keseruannya, ke “absurd”an nya, kekocakannya, dan kekhusyukannya.  Saya memakai istilah culture shock, atau dalam padanan Bahasa Indonesia nya Gegar Budaya biar lebih bombastis, hehe.

Selama wara-wiri keliling Indonesia saya belum pernah menemukan ritual yang berbeda selama sholat Jum’at. Hampir di setiap daerah di Indonesia meskipun sampai ke desa-desa banget, Khatibnya menyampaikan Khotbah Jum’at dalam bahasa Indonesia. Tapi pernah suatu kali waktu Bulan Ramadhan saya sholat Jum’at di Cimahi khatibnya bahasa Sunda. Alhasil saya nangkap khotbah nya Cuma 50%, tapi sampai sekarang masih terngiang-ngiang apa yang disampaikan Khatibnya, begini kira-kira, “Mun aya jelma ngabodor dina Bulan Ramadhan, Gusti Allah ngabalas ka eta Jelma”, saya pun senyum-seyum sendiri karena aneh bagaimana gitu. Pernah juga waktu di Probolinggo saya Jum’atan di sebuah perkampungan dengan Bahasa Jawa. Saking kampungnya orang-orang disana jum’atan berbaju tradisional serba hitam. Alhasil saya Totally lost in translation, karena emang gak ngerti boso Jowo.

Jum’atan paling kocak adalah ketika di Beijing, saya Sholat Jum’at di Masjid Niu Jie, yang merupakan masjid tertua se Tiongkok.  Ketika masuk masjid saya memilih duduk di tengah-tengah masjid. Setelah selesai Sholat Sunat saya mendengar ada seperti suara-suara orang memanggil dari belakang. Saya pun menoleh, bercelotehlah aki-aki tua dalam bahasa Mandarin “Cang cing cung”, ya mana saya mengerti. Saya pun menghiraukan, eh si Aki  memanggil lagi. Kali ini dia sambil ngasih isyarat sambil suruh saya liat ke belakang. Ehh ternyata saya menghalangi jalan khatib yang mau masuk masjid, Maaf maaf, hehe. Jadi disana ritualnya khatib, didampingi oleh dua orang yang semua berpakaian serba putih masuk masjid, berjalan di tengah-tengah ruangan masjid bagaikan kaisar China mau masuk istana, sebelum sang Khatib naik ke Mimbar.

Jum’atan paling memorable adalah waktu saya sholat Jum’at di Masjid Jawa, Bangkok. Nama masjid ini benar-benar masjid jawa, lantaran dulu penduduk di sekitar masjid adalah keturunan Jawa. Tapi itu udah dulu banget, sekarang orang-orang Jawanya sudah tidak bisa berbahasa Jawa dan Indonesia lagi, dan telah melebur dengan warga Thailand asli. Setelah muazin mengumandangkan azan, saya sempat dibuat terpana kenapa khatibnya tidak naik mimbar. Saya tunggu lima menit, 10 menit, 15 menit,, eh ada apa ini ? Sampai saya sempat-sempatnya berpikir, Jangan-jangan disini jum’atannya tidak pakai Khotbah ?. Berselang lima menit, baru muncul seorang bapak-bapak yang bicara dalam bahasa Thailand di depan sekitar 10 menit. Tapi anehnya, kenapa dia tidak bicara di atas mimbar ? Kemudian saya baru yakin ternyata bapak yang barusan ngomong bukanlah khatib, di kita semacam pengumuman-pengumuman seputar keuangan masjid gitu kali yaa. Nah barulah lima menit kemudian ada adzan yang kedua, dan barulah khatib beneran naik mimbar dan ngomong.. Fiuuuh, ada waktu 30 menit sendiri untuk menanti dari adzan yang pertama sampai khatib naik mimbar.  Bagian favorit saya adalah disini setelah selesai sholat Jum’at semua jamaah dikasih makan. Makan benar-benar makan di pelataran masjid, mulai dari nasi, laukpauk, roti, minuman. Alhasil saya pulang-pulang dari masjid dengan puas karena perut udah kenyang. Mungkin buat menarik orang-orang muslim biar mau datang Jum’atan kali ya, hehe.

Jum’atan yang paling absurd adalah ketika Jum’atan di Masjid Hassan, yang merupakan masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, yang terletak di Casablanca, Maroko. Pas masuk masjid kita dikasih kresekan putih untuk naroh sandal/sepatu, yang nantinya di taroh di depan masing-masing si empunya sandal/sepatu.  Positifnya gak perlu lagi toh ada tempat penitipan sandal, tapi negatifnya kan pas sujud aroma itu sepatu jadi kecium,, huhh. Khotbah disampaikan dalam bahasa Arab. Setelah imam selesai dan membaca salam, jama’ah langsung berdiri untuk keluar masjid. Kalau di kita kan do’a dulu, zikir dulu, kalau disana selesai salam semua langsung berbondong-bondong keluar masjid. Karena mau jamak dengan sholat Ashar, saya pun sholat lagi. Orang-orang cuek aja tuh berdiri lewat di depan tempat sujud saya, Ya Ampuun, Gak liat gue lagi sholat apa ??. Nah tapi ada pengecualian, dua shaf di depan mereka gak langsung keluar, ternyata mereka nungguin imam. Kemudian terlihatlah imam dan jemaah saling salaman, berpelukan, dan cium pipi kiri-kanan. Wooww!

42 Jam di Laut (Mentawai Bagian 2)

Meski lahir dan besar di Sumatra Barat saya belum pernah menginjakkan kaki di Mentawai sebelumnya. Bagi kebanyakan orang Minang (Sumatra Barat) khususnya dan Indonesia pada umumnya, Mentawai masih terdengar aneh, misterius, terpencil, dan jauh banget. Padahal bagi bule-bule Eropa dan Amerika Mentawai itu ombak nya bagus banget, 11 12 sama ombak di Hawai ceu Nah!, dan mereka bela-belain ke tempat sejauh ini.
Kabupaten Mentawai merupakan gugusan kepulauan yang terletak di barat pulau Sumatra, yang terdiri dari empat pulau besar: Sipora, Siberut, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Beberapa bulan sebelumnya saya sempat berencana ke Pulau Siberut bersama dua teman dari Jakarta, tapi karena saya kecelakaan jatuh motor dan pas berangkatnya masih sebulan pasca operasi, saya batal ikutan.

Karena kesempatan itu ada, saya punya waktu dan ibu saya juga lagi di Jambi akhirnya saya memutuskan untuk ke Mentawai. Setelah dipikir-pikir saya memutuskan untuk Ke Tua Pejat, Pulau Sipora. Selain merupakan Ibu Kota Kabupaten Mentawai, di sana juga ada sodara sepupu dari pihak bapak saya yang sehari-hari berjualan kebutuhan sehar-hari (*Namanya Uda Jack, Disingkat DaJek). Setelah mengabari nya, saya pun berangkat dari Padang.

Malam sebelumnya saya memutuskan untuk menginap di rumah sodara sepupu di Kota Padang, karena besok paginya kapal cepat berangkat pukul 7 pagi. Sialnya semalaman hujan deras sederas-derasnya dan gak berhenti-berhenti, alhasil bikin saya lumayan deg-degan. Perjalanan pun dimulai, baru beberapa menit berlayar, eh aje gile ombaknya kok gini amattt yak!. Mana saya duduk di dekat jendela, jadi guncangannya terasa sekali. Sebelumnya saya juga beberapa kali naik kapal cepat, seperti : waktu ke Pulau Seribu, Bangka ke Belitung, Kuala Perlis ke Langkawi, Batam ke Singapura, tapi tidak ada yang ombaknya terasa banget kayak gini. Untuk mengalihkan perhatian saya dengar music dari headset tapi mau tahan berapa lama, secara kan di kapalnya 3.5 jam. Bule di samping saya kelihatannya enjoy-enjoy saja, gak ketakutan. #Zzz
Terasa sekali goncangan nya ketika mau ke Toilet, jalan di koridor dari depan ke belakang susah pake banget, melangkah selangkah terdorong kekanan, selangkah lagi terdorong ke kiri, maju-mundur, udah kayak aki-aki mabook. Balik dari toilet saya memutuskan untuk duduk di tengah saja, tidak kuat guncangan di dekat jendela. Yang tadi nya film perang-perangan Hollywood, sekarang diganti menjadi AADC 2, lumayanlah untuk membunuh waktu dan biar gak terlalu jiper sama ombak Samudra Hindia yang ganas ini. Sekarang giliran bule yang mati gaya karena gak ngerti ceritanya, subtitle nya bahasa Malaysia, hehe.
Setelah 3.5 jam di laut akhirnya sampai juga di Tua Pejat, Mentawai dan dijemput oleh sodara saya pake Motor, kebetulan dia tinggal tidak jauh dari pelabuhan. Cerita Pengalaman saya selama di Tua Pejat, Sipora di Lanjut ke Mentawai Bagian 1 (*Coming Soon). [Hebat khan!, #AntiMainstream, Bagian 2 dulu baru Bagian 1)]
Rencananya saya mau berada di Mentawai 5 hari, nyampe hari rabu pagi balik hari minggu sore naik kapal cepat. Tapi DaJek menyarankan agar saya balik nya naik kapal besar yaitu Kapal Ferry, KMP Ambu-Ambu, karena goyangannya relatif tidak terasa seperti halnya naik kapal cepat, saya pun ngikut. Masalahnya jadwal KMP Ambu-Ambu adanya pada hari Jum’at malam dan Senin malam dan memakan waktu 11 jam di kapal, jadi mau tak mau saya memilih Jum’at dan merelakan jatah hari saya berkurang dua hari di mentawai, ya sudahlah.

DSC04151
Pukul 3 sore hari pada hari Jum’at saya pergi ke Pelabuhan untuk beli tiket KMP Ambu-Ambu, ditemani Taufik (Teman Dajek yang rela mengantar saya jalan-jalan selama di mentawai, *Lengkapnya di Bagian 1). Tapi si ABK yang bagian jualan tiket nya masih tidur, dibangunin gak bangun-bangun. Kita pun nyerah dan keluar. Mata saya tertuju kepada Sebuah Kapal Besar yang gagah yang lagi menepi, KM Sabuk Nusantara 37, yaitu kapal Perintis subsidi Pelni yang mengadakan pelayaran antara pulau di Gugusan Kepulauan Mentawai. Nanya ke Pegawai bagian jual tiket, ternyata pas banget rute nya akan menuju Teluk Bayur, Padang, sore ini tapi masalahnya muter-muter dulu : Tua Pejat (Sipora Utara)-Sioban (Sipora Selatan)-Sikakap (Pagai Utara/Selatan)-Teluk Bayur (Padang). Ujung-ujungnya memang berakhir di Padang, tapi transit dulu di dua pulau. Setelah pikir panjang dan memikirkan kenyamanan yang akan saya dapatkan berlayar di kapal perintis, akhirnya saya pilih kapal perintis. Tadinya saya mau berobat dulu ke mantri pukul 5 sore karena KMP Ambu-ambu kan berangkat nya pukul 8 malam, tapi karena diganti secara impulsive menjadi pukul 5 sore dengan kapal perintis, gak jadi deh berobat nya. Hikks, menyebalkan banget sakit bisul di kaki ini, pas di Pulau Pulak.

DSC04155

DSC04138
Memasuki kapal Perintis, saya dibuat takjub dengan kemegahan kapalnya. Ini kapal penumpang tapi rapi dan bersih banget. Ada tempat tidurnya dengan kasur bertingkat macam di Dorm Hostel (Kasur beneran ya dengan seprai rapi, bukan matras, Plus Ber AC pula), ada kamar mandi dan shower yang lumayan bersih (meski kloset jongkok, bukan kloset duduk), ada kantin, TV dengan channel internasional, dan ada tempat untuk kongkow-kongkow di lantai atasnya. Tidak sebagus kapal pesiar, tapi jauh lebih bagus dari pada KMP Ambu-ambu yang busuk, pengap, dan dijejelin berbagai macam barang dan binatang di atasnya. Kata DaJek kalau lagi apes, di KMP Ambu-Ambu kita bisa tiduran di lantai sebelahan dengan ayam, sapi, dan babi, hii.

DSC04158
Tidak terlalu susah mencari aktivitas yang akan dilakukan, karena memang kasurnya nyaman jadi membaca dan nonton berjam-jam pun terasa enak aja. Tepat pukul 10 malam dimana kapal seharusnya sudah merapat di Sioban (Sipora Selatan), tapi kapal tidak kunjung merapat. Usut punya usut dijelaskan lewat pengeras suara bahwa kapal tidak bisa merapat di pelabuhan karena ada dua kapal kayu yang juga berlabuh di dermaga. Bagi saya gak masalah mau bermalam di laut atau di pelabuhan pun, toh sama-sama tidurnya di atas kapal juga, tapi masalahnya saya lapeer. Untunglah chef ABK berinisiatif memasak nasi goreng pake telur dan dijual seharga 20 ribu kepada penumpang kelaparan. Lumayan banget !.
Besok pagi nya kapal merapat di Pelabuhan Sioban, sekitar pukul 7 pagi, akan berangkat lagi pukul 10 pagi.. Yihaa saya bisa eksplor pulau ini dulu deh. Karena khawatir sakit kaki saya akan makin parah karena obat nya sudah habis, saya memutuskan untuk mencari Puskesmas terdekat. Di jalan saya bertemu seorang pemuda dan bertanya arah puskesmas, eh dianya berbaik hati sekalian mengantar pake motor. Orang baik ada dimana-mana yaa!. Setelah nemu Puskesmas saya pun lega karena kaki saya sudah diobat oleh dokter dan perawatnya, meskipun pake acara teriak-teriak karena disuntik segala plus dibedah untuk mengeluarkan nanah nya.. Jempol untuk tenaga medis yang mau terjun ke pelosok Pulau-pulau terluar Indonesia gini.

DSC04162

DSC04165
Setelah berobat saya sarapan Lontong dulu. Pas lagi enak-enaknya makan eh ada bunyi Sirine kapal. Saya pun bergegas. Setelah Tanya ABK, ternyata sirine itu bunyinya tiga kali. Pertama bunyi sekali, kedua bunyi dua kali, dan ketiga bunyi tiga kali, baru deh kapal berangkat. Karena baru bunyi sekali saya masih sempat keluar kapal dulu untuk beli nasi bungkus untuk makan siang. Pukul 10 kapal berangkat. Mungkin karena efek makan obat dan antimo saya jadi ngantuk dan tertidur, bangun-bangun sudah sore kapal sudah mau nyampe di Pulau Sikakap. Woaa, Alhamdulillah yaa, jadi pengangguran kelas berat di atas kapal. Berarti sudah 24 jam saya di atas kapal.
Saya menyukai pemandangan di sekitar Pelabuhan Pulau Sikakap. Berasa di danau aja gitu, airnya tenang karena ada pulau lain di seberangnya, jadi beberapa anak disini asik berenang. Terlihat juga beberapa perahu tradisional nelayan dan kapal carteran bule dari dermaga, bagi mereka yang hunting ombak untuk surfing. Cuaca senja yang cerah sangat mendukung untuk jalan-jalan pulau. Bangunan gereja, Mess pastor / biarawati, dan bangunan tua SD Katolik sangat enak dipandang mata. Di sini anak SD nya diasramakan, jadi sore hari mereka juga ikutan kerja bakti membersihkan pekarangan gereja. Tapi anak-anak kecil ini juga kudu siaga 24 jam, karena pas di depan sekolahnya ada tulisan “Kami Orang Mentawai Siaga Gempa dan Tsunami” plus ada tanda Evacuation Route Tsunami dimana-mana.

DSC04173

DSC04176
Sembari mencari perbekalan makan dan minum untuk malam hari saya mencari mesin ATM karena uang cash saya menipis. Ternyata Cuma ada satu ATM di Pulau Sikakap dan itupun uang di dalam mesin nya habis, Mampus!. Lesson learned, kalau mau ke Mentawai bawa uang segepok karena minimnya Mesin ATM disana. Balik ke Kapal, saya sempat lewat depan Puskesmas dan ada spanduk dengan tulisan “7 Pesan Sikerei”. Sikerei adalah sebutan untuk kepala / tetua adat suku asli mentawai. Yang bikin ngakak adalah (S) : Stop Buang Air besar sembarangan (*hare genee?). Dan yang bikin jiper adalah (E) : Eliminasi penyakit kaki gajah dan penyakit malaria serta temukan, obati sampai sembuh penyakit TB. Sebelumnya waktu berobat di Sioban saya sempat ditanyai perawat apa pernah sakit malaria sebelumnya ? Di Mentawai penyakit malaria lumayan endemic dan biasanya pendatang yang baru biasanya kena, hiii sebel. Buru-buru deh saya balik ke kapal, ntar digigit nyamuk malaria.

DSC04168
Kapal yang tadinya dijadwalkan berangkat pukul 8 malam diundur menjadi pukul 11 malam. Entah apa alasannya, bukannya di kita jam karet sudah biasa ya ? tapi kalo tiga jam ? ya sudah lah pas kapal sudah berangkat saya pun tidur. Malamnya terbangun karena lapar, makan bekal yang tadi sudah dibeli. Lanjut tidurr!. Bangun pagi, sholat subuh, menikmati sunrise di lantai atas sambil kongkow-kongkow, tidur lagi, baca buku, ngobrol-ngobrol sama bapak-bapak. Tidur lagi dengarin obrolan pemuda-pemuda dan ABK, akhirnya sampai jugaa.. Fiuhh, kapal merapat di teluk bayur pukul 11 pagi dengan selamat sentosa, setelah total 42 jam pelayaran di laut plus transit di Pelabuhan. Luar biasa, pengalaman terlama saya di Kapal Laut.
Setelah sampai di Pelabuhan, DaJek menelepon saya dan mengabarkan bahwa dia jadinya ada urusan ke Padang, dan naik KMP Ambu-Ambu malam tepat setelah saya naik kapal Perintis. Terus dia cerita akan dahsyatnya badai yang menerjang ke Kapal Ambu-Ambu sampai sampai air ombak masuk kapal. “Duduk aja susah apalagi berdiri, pas dia naik ke lantai atas, eh malah disembur air”. Bersyukur juga akhirnya penumpang gak kenapa-napa dan bersykur juga saya tidak merasakan “Gilanya Ombak” kalau jadi naik kapal itu.